Ini Tips dan Cara Menangkar Murai Batu

Usaha Penangkaran Murai Batu

Bila Anda ingin memulai usaha, ada banyak pilihan jenis usaha yang bisa Anda prioritaskan. Mulai dari bisnis yang sesuai dengan hobi ataupun yang benar-benar tidak ada hubungannya dengan hobi Anda.  Semua sah-sah saja Anda pilih.  Semuanya mempunyai peluang dan kesempatan untuk bisa sukses dan berhasil. Pengalaman saya dalam menangkaran burung berekor panjang ini menginspirasi saya untuk berbagi tips-tips seputar bisnis murai batu ini.  Saya berharap dengan adanya tulisan ini nantinya mungkin bisa bermanfaat bagi teman-teman yang ingin juga memulai bisnis beternak burung yang pandai menirukan berbagai jenis suara burung lain ini. Sebelumnya, saya pernah menuliskan beberapa tulisan singkat saya yang ada di blog Murai Batu dan Beternak Murai Batu.  Disana beberapa tulisan bersifat terpisah dan mugkin saling melengkapi di antara blog yang satu dengan yang lainnya.  Akan tetapi, mungkin di blog ini lah saya akan mencoba untuk memberikan tulisan yang lebih lengkap dan mendetail seputar cara penangkaran murai batu ini. Ada beberapa tahap yang harus di ketahui oleh calon penangkar agar murai batu bisa berhasil di tangkarkan.  Mulai dari proses penjodohan hingga proses pemasaran.  Tidak semua orang bisa berhasil menangkar burung yang mempunyai harga jual yang relatif tinggi ini. Sifatnya yang galak membuat burung yang berwarna hitam dan coklat ini menjadi relatif susah untuk di tangkarkan.  Di perlukan kesabaran dan ketelatenan agar calon peternak bisa melalui tahap demi tahap sebelum akhirnya bisa berhasil.  Akan tetapi, banyak juga yang akhirnya menyerah dan gagal mencoba berternak burung pemakan hewan ini. Setiap peternak yang satu dengan peternak yang lain mungkin memiliki tips dan cara yang berbeda hingga berhasil menangkarkan burung yang bersifat teritorial ini.  Akan tetapi saya mencoba menguraikan langkah demi langkah yang mungkin bisa Anda praktekkan.  Berikut ini adalah tahap-tahap pada proses beternak murai batu mulai dari nol hingga bisa proses pemasaran yang bisa Anda coba.

Pemilihan indukan

Di pasaran, ada beberapa jenis murai batu yang bisa Anda coba tangkarkan.  Munkin ada perbedaan penyebutan dan definisi di antara para penghobiis murai batu di tanah air. Walaupun mungkin ada juga penggemar yang membagi lagi dalam beberapa jenis lagi seperti Murai Batu Acah, Murai Batu Bahorok, Murai Batu Lahat dan masih banyak lagi yang lainnya. Akan tetapi , perbedaan jenis murai batu ini dahulu juga pernah saya tuliskan di Ciri-Ciri Murai Batu Medan, Lampung dan Kalimantan. Dan di sini saya akhirnya mencoba memudahkan dengan membagi jenis murai dari ciri-ciri fisik yang bisa di kenali saja.  Pengklasifikasian ini sama sebagaimana jenis-jenis burung lain yang juga di kategorikan berdasarkan ciri fisiknya. Mulai dari jenis Murai Batu Lampung, Murai Batu Medan hingga Murai Kalimantan atau Murai Batu Borneo serta Murai Batu Nias. Untuk memilih jenis mana yang akan di tangkarkan memang sepenuhnya menjadi keinginan calon peternak. Peternak bisa saja memilih jenis murai batu Lampung, Medan, Nias atapun jenis Borneo.  Akan tetapi, di Indonesia jenis yang paling banyak yang di tangkarkan adalah jenis murai batu Medan yang mempunyai ekor yang lebih panjang sehingga banyak peminatnya.

Sehat dan Tidak Cacat

Agar proses perkawinan bisa berjalan dengan normal, sebaiknya indukan di pilih dari indukan yang sehat dan tidak cacat.  Hal ini di lakukan agar nantinya proses perkawinan tidak terkendala seperti gara-gara kuku kaki yang hilang atau yang lainnya.  Murai batu yang sehat bisa di lihat dari penampakannya.  Murai yang sehat akan memiliki bulu yang mengkilat, agresif dan lincah. Sebaliknya, apabila bulu murai berdiri dan murai terlihat lesu, sebaiknya murai batu seperti ini tidak di jadikan calon indukan karena bisa jadi murai tersebut sedang sakit.  Bila bulu murai batu tidak lengkap,maka proses perkawinan akan bisa terhambat. Selain itu, hal yang penting lain adalah tidak dalam kondisi ganti bulu.  Bila burung dalam kondisi mabung, maka burung akan terlihat seperti burung sakit. Tidak bergairah dan tidak selincah seperti biasanya. Hal itu di perparah dengan rontoknya sebagaian bulunya selama bergantian.  Bila ingin menggunakan sebagai calon indukan, sebaiknya kita menunggu proses ganti bulu selesai. Biasanya, sejak mulai bulu berjatuhan hingga semuanya kembali normal di butuhkan waktu sekitar dua bulan. Selama proses ganti bulu nutrisi di pakan harus di perhatikan agar bulu bisa tumbuh dengan optimal.

Sifat dan Kharakter

Yang paling penting untuk di perhatikan di sini adalah sifat dan kharakteristik dari indukan yang ingin kita jodohkan tersebut.  Sebaiknya, paling tidak calon indukan yang di pilih adalah murai yang mempunyai sifat jinak dan tidak galak.  Karena apabila salah memilih, maka akibanya bisa fatal dan proses penjodohan tidak berhasil sebagaimana mestinya.  Murai batu yang galak akan cenderung suka berkelahi dan di khawatirkan nantinya akan mau menghajar indukan betina bila ternyata tidak berjodoh. Selain itu mendapatkan indukan yang mau mem elihara anakan dengan baik juga di harapkan apabila kita ingin ternak murai batu.  Selain itu, pejantan juga  harus bernas atau berisi agar proses pembuahan berlangsung dengan sempurna.  Bila pejantan kosong, maka telur yang di hasilkan juga tidak akan menetas.  Untuk mengetahui hal tersebut memanglah tidak mudah. Perlu di coba di pelihara terlebih dahulu baru kita bisa mengetahui sifat-sifat tersebut.

Dari Anakan VS Jebol Kandang

Ada beberapa pilihan saat kita ingin membeli calon indukan muray batu yang ingin kita ternakkan.  Bisa membeli anakan atau membeli indukan yang sudah pernah produkfi atau yang biasa kita kenal dengan istilah Jebol Kandang.  Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.  Bila kita ingin membeli anakan, berarti kita harus meliharanya hingga siap untuk di jodohkan. Waktu yang dibutuhkan untuk siap kawin adalah hingga sekitar satu tahun.  Itu pun belum resiko saat proses pembesaran seperti bila burung sakit atau mati. Selain itu, terkadang kesalahan jenis kelamin masih bisa terjadi di proses pembesaran ini. Bila yang sebelumnya kita prediksi jantan ternyata betina, begitu juga dengan sebaliknya.  Bila ternyata keduanya sepasang atau jantan dan betina memang bisa di teruskan.  Akan tetapi apabila ternyata jantan semua atau betina semua maka kita harus membeli lagi agar bisa di pasangkan dengan murai batu tersebut. Sedangkan bila membeli indukan jebol kandang, kita berarti membeli indukan yang sudah dalam keadaan siap produksi.  Untuk jebol kandang memang sangat meminimalisir resiko kegagalan baik penjodohan atau perkawinan. Akan tetapi, harga dari indukan jebol kandang seperti ini sangatlah mahal karena jarang sekali ada peternak yang melepaskan indukannya kecuali dengan tawaran yang cukup tinggi.  Di sini, calon peternak tinggal meneruskan saja proses produksinya. Namun, meskipun indukan di beli dari jebol kandang bukan berarti resiko kegagalan sudah tidak ada begitu saja. Resiko gagal pasti tetap ada meskipun akan jauh lebih kecil bila kita menjodohkan sendiri.  Banyak peternak yang berhasil dengan membeli indukan jebol kandang seperti ini. Selain menghemat waktu, cara ini juga sangat menghemat biaya karena kita tidak perlu keluar biaya pakan  dan biaya perawatan saat proses pembesaran. Selain dari dua metode di atas, calon peternak juga bisa membeli murai batu yang sudah siap kawin secara terpisah. Dengan cara ini, kita bisa membeli dari perorangan ataupun dari pasar burung.  Akan tetapi cara ini juga beresiko mengingat kita tidak bisa mengetahui bagaimana riwayat murai batu tersebut.  Misalnya, saat membeli murai batu pejantan dewasa harus di usahakan yang tidak galak, harus bernas (berisi) dan lain sebagainya.  Padahal sangat sulit untuk mengetahui hal tersebut bila kita tidak pernah memelihara sebelumnya.

Proses Penjodohan

Proses ini menurut saya adalah proses awal yang relatif susah untuk di lewati dari pada proses-proses yang lainnya.  Bagaimana tidak, karena mempunyai sifat yang teritorial menjadikan burung ini cenderung ingin menguasai daerah yang di kuasainya.  Burung murai batu lain yang mendekat, berarti itu akan di anggap sebuah ancaman dan secara naluriah sang murai akan mengusirnya. Dan burung lain yang mendekat itu tidak hanya utnuk  murai batu jantan lain. Murai batu betina yang sengaja kita jodohkan pun bila ternyata belum jodoh akan tetap di anggap musuh bagi murai batu jantan tersebut.  Bila murai batu lain teresebut jantan, proses perkelahian pun tidak bisa di elakkan. Begitu juga apabila betina yang mendekat, secara naluri sang murai jantan akan menghajarnya yang terkadang hingga sampai mati. Oleh karena itu, proses penjodohan ini memerlukan pengawasan yang ketat agar bisa di kontrol dengan baik.  Bila berkelahi pun, peternak akan segera mengetahuinya dan segera mencegah agar tidak terjadi kematian di antara salah satunya.  Paling tidak pada saat-saat awal pelepasan kedua indukan harus terus di awasi bagaimana perilaku dari keduanya. Yang perlu di perhatikan dalam proses penjodohan ini adalah ketersediaan stok calon indukan yang lebih dari satu. Hal tersebut di lakukan sebagai antisipasi bila sewaktu-waktu salah satu calon indukan berkelahi yang bisa mengakibatkan murai batu menjadi sakit atau bahkan mati.  Biasanya, pejatan lah yang menghajar betina. Jadi, menyediakan indukan betina lebih dari satu bisa dilakukan untuk jaga-jaga. Teknis penjodohan yang selama ini saya lakukan di lakukan dalam beberapa cara. Mulai dari tahap pengenalan dengan mendekatkan keduanya saat di sangkar gantung atau memasukkan keduanya di kandang penangkaran tapi salah satunya masih ada di sangkarnya.  Cara pertama saya lakukan apabila sang penjantan mempunyai kharakter yang galak sehingga perlu penanganan khusus dan waktu yang lebih lama. Hal ini saya lakukan untuk meminimalisir resiko kegagalan penjodohan seperti yang pernah saya alami seperti di video di bawah ini: Akan tetapi bila sepertinya calon indukan tidak galak, maka saya akan mencoba cara kedua. Sang pejantan saya masukan ke dalam sangkar lalu saya masukkan ke dalam kandang penangkaran beserta sangkarnya. Lalu, calon indukan betina saya lepas lansgung ke dalam kandang penangkaran.  Setlah dua minggu baru sang pejantan di lepas bersama calon indukan betina.

Kandang Penangkaran

Untuk menangkarkan sepasang indukan murai batu, sebenarnya tidak di perlukan kandang yang terlalu luas. Ukuran standar seperti panjang 90 cm, lebar 180 meter dan tinggi 2 meter sudah bisa di gunakan untuk menangkarkan.  Akan tetapi, apabila kita mempertimbangkan kenyamanan indukan maka ukuran yang lebih besar bisa kita buat seperti panjang 1 meter, lebar 2 meter dan tinggi 2 meter. Sebenarnya tidak ada patokan pasti untuk ukuran ini. Banyak peternak yang berhasil dengan ukuran kandang yang jauh lebih kecil dari ukuran di atas yang ternyata juga berhasil menghasilkan anakan murai batu dengan sehat dan lancar. Bahkan dengan sangkar gantung dengan ukuran diameter 60 cm juga ada yang sukses berproduksi.  Tinggal kita bisa menyesuaikan saja dengan lahan yang kita miliki. Pada tahap awal bisa kita coba dengan ukuran kita. Bila ternyata mungkin kurang luas, maka kita bisa membuatkan kandang yang baru dengan ukuran yang lebih baik. Ruangan kosong seperti kamar juga bisa di pakai untuk beternak murai batu.  Bahkan, lorong gang kecil di rumah kita juga bisa rubah untuk kita gunakan beternak burung ini.

Perlengkapan Kandang

Tempat minum, tempat pakan, tenggeran dan kotak sarang merupakan perlengkapan yang sangat penting untuk di sediakan dalam kandang penangakaran murai batu.  Tenggeran, tempat pakan dan tempat minum yang biasa di jual di pasaran bisa kita gunakan untuk perlengkapan di dalam kandang.  Sedangkan untuk kotak sarang, saya lebih suka bila membuat sendiri dengan menggunakan papan kayu. Wadah untuk mandi sangat di butuhkan agar burung merasa nyaman.  Di alam liar maupun saat sudah di pelihara manusia, burung dengan nama latin Copsychus malabaricus ini sangat suka mandi.  Setiap hari, wadah ini harus di ganti agar selalu bersih dan jernih.  Burung pun juga tidak segan mandi setiap saat. Kotak sarang dengan ukuran 20 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 25 cm sudah bisa di gunakan untuk tempat murai batu bertelur.  Yang terpenting, jangan memberikan tenggeran terlalu banyak agar burung bisa leluasa terbang di dalamnya.  Pemberian tempat pakan dan minum harus di atur sedemikian rupa agar mudah di jangkau oleh indukan serta aman dari gangguan semut dan predator yang lainnya.  Pemberian oli atau kapur semut sangat efektif untuk mencegah semut masuk ke dalam tempat pakan.  Mendesain tempat makan dan minum khusus juga bisa di lakukan peternak.  Misalnya memberikan wadah yang di genangi air juga bisa di lakukan agar semut tidak masuk.

Penyusunan Sarang

Bila calon indukan sudah berjodoh dan tidak bertengkar, biasanya tidak lama setelah itu akan terjadi proses perkawinan.  Dalam hal ini, tentu saja tidak sama antara indukan yang satu dengan yang lainnya.  Ada yang seminggu langsung kawin dan ada juga yang lebih lama.  Semua bergantung pada kesiapan dan birahi indukan. Bila keduanya birahi bersamaan, maka proses perkawinan biasanya akan segera berlangsung.  Setelah perkawinan terjadi inilah, indukan betina akan menyusun sarang. Dalam menyusun sarang, betina akan membawa apa saja yang ada di dasar kandang.  Bila tidak ada bahan sarang, maka indukan betina akan membawa apa saja barang-barang yang di bawah seperti dedaunan, sampah, plastik dan sebagainya.  Maka dari itu, peternak perlu menyiapkan bahan untuk membuat sarang.  Daun cemara yang kering adalah salah satu bahan yang paling mudah di jumpai di pasaran. Selain itu, kita bisa menggunakan bahan lain seperti jerami, ijuk, rumput atau dedaunan yang kering. Disini kita harus bisa memperkirakan berapa banyak bahan sarang yang harus kita sediakan. Jangan sampai indukan betina kekurangan bahan saat akan menyusun sarang.  Lalu, bagaimana tanda bila indukan betina kekurangan bahan sarang? Kita bisa melihat di dasar kandang. Bila dasar kandang benar-benar bersih dari sampah dan dedaunan, berarti indukan betina telah membawa sampah-sampah tersebut ke kotak sarang.  Dari situ kita bisa melihat dan sesegera mungkin untuk menambahkan bahan sarang. Saya pernah beberapa waktu yang lalu kelupaan menyediakan bahan sarang seperti ini.  Suatu hari saya mendapati alas kandang benar-benar bersih. Daun yang rontok dari pohon di dalam kandang juga hilang entah kemana.  Setelah saya mengecek kotak sarang ternyata di indukan betina sudah membawa daun dan sampah tersebut untuk menjadi bahan sarang. Bisa di tebak  bagaimana bentuknya, bukan?  Di dalam kotak sarang terdapat sebuah sarang murai batu dengan bahan daun kering dan sampah. Setengah iba dan juga hanya bisa tersenyum melihat kelakuan indukan saya tersebut..

Telur Murai Batu

Setelah indukan murai batu kawin, maka indukan akan bertelur. Biasanya, indukan bisa bertelur hingga tiga butir. Apakah bisa lebih dari jumlah itu? Sampai dengan saat ini, saya belum pernah mengalami salah satu indukan saya yang bertelur lebih dari tiga.  Peternak lain mungkin saja pernah indukannya bertelur lebih dari tiga atau empat kali. Akan tetapi, rata-rata biasaya indukan bertelur dua atau tiga butir telur dalam sekali produksi.  Telur murai batu berwarna biru muda dan terdapat bercak coklat yang memenuhi seluruh telur.  Ukuranya sama dengan telur lovebird atau kacer.  Bahkan bentuknya sama persis dengan telur burung kacer.  Kulit dari telur murai sangat lah tipis. Jadi, harus hati-hati bila kita mengeceknya. Misalnya, saat mengecek telor tersebut apakah sudah isi atau ternyata kondisi kosong.  Telor ini sangat rawan pecah apabila kita memegangnya dengan tangan kosong. Setelah bertelur, indukan akan mengerami telur-telur tersebut.  Tugas pengeraman di lakukan oleh sang betina.  Waktu pengeraman biasanya 14 hari.  Setelah itu, telur akan menetas. Apabila telor murai batu tidak menetas, maka hal tersebut bisa di akibatkan oleh beberapa faktor. Bisa salah satu indukan tidak bisa kawin sehingga sperma jantan tidak masuk ke kloaka sang betina atau mungkin bisa juga gara-gara indukan tidak mau mengeram.  Cuaca yang ekstrim dan panas terkadang membuat indukan betina sering turun yang akhirnya menyebabkan telor tidak menetas.  Selain itu penyebab telor tidak menetas juga bisa di akibatkan oleh hal lain seperti kosongnya sperma pejantan atau mungkin faktor yang lainnya. Salah satu video cara mengecek telor murai batu di dalam kotak sarang apakah isi atau tidaknya bisa di lihat di bawah ini: Yang harus di bawa saat mengecek telor murai batu di sarang adalah senter atau handphone yang ada lampunya. Sebelumnya, posisikan lampu untuk siap di nyalakan agar hp bisa lebih cepat menyala. Biasanya, indukan murai betina akan terbang bila kita mendekat ke dalam sarangnya. Setelah itu, baru kita bisa menerawang telur tersebut apakah ada isinya atau tidak. Lakukan dengan hati-hati agar telur tidak pecah atau retak. Waktu yang tepat untuk mengecek telor ini bisa dilakukan setelah 10 hari setelah indukan mengeram. Telor yang berisi akan terlihat gelap atau di dalamnya ada darah. Bila tidak ada, hampir pasti di pastikan telor yang telah di erami tersebut kosong dan tidak berisi. Walaupun di erami lebih lama lagi, telor tersebut tidak akan menetas. Bila ternyata telor kosong, sarang dan telor tersebut bisa kita angkat agar indukan bisa segera bereproduksi kembali. Bahan sarang bisa kita sebar ke dasar kandang untuk bisa di ambil kembali oleh indukan bila di butuhkan untuk menyusun sarang. Biasanya, setelah dua minggu kemudian sang indukan murai batu bisa bereproduksi kembali. Cara mengangkat sarang dan menyebar sarang ke dasar kandang bisa bisa dilihat seperti yang ada di video di bawah ini:

Menyuapi Anakan

Usia 5-7 hari adalah hari yang tepat untuk mengambil anakan. Di sini mungkin bisa berbeda-beda antara peternak satu dengan yang lainnya.  Bahkan, ada pula yang mengambil anakan sewaktu usia masih sehari.  Apakah bisa? Memang bisa saja. Akan tetapi resikonya terlalu besar dan sangat rawan karena anakan masih sangat lemah. Apalagi bila belum berpengalaman, sebaiknya mengambil anakan di usia dini seperti ini sebisa mungkin di hindari. Sewaktu mengambil anakan, sarang harus di ambil hingga bersih agar indukan nantinya mau menyusun sarang kembali.  Bila terlambat mengambil anakan, kemungkinan bisa saja terjadi indukan pejantan akan membuang anakannya. Hal tersebut terjadi mungkin karena sang pejantan menganggap kehadiran burung baru akan menyaingi atau di anggapnya sebagai musuh meskipun itu anaknya sendiri.

Sistem Poligami

Untuk meningkatkan produktifitas, menangkar burung murai batu juga bisa di lakukan dengan sistem poligami. Di sini yang di maksud dengan poligami adalah satu pejantan untuk beberapa betina.  Bisa di lakukan dua betina hingga lebih.  Sistem bergiliran di lakukan agar semua betina bisa mendapat jatah.  Setelah salah satu betina bertelur, sang pejantan di pindah ke kandang lain hingga betina lain tersebut bertelur.  Begitu seterusnya.  Di butuhkan ketelatenan untuk memindahkan pejantan ke kandang satu ke kandang yang lainnya. Selain itu, bila indukan sama sekali tidak galak, satu pejantan dengan beberapa betina juga bisa di satukan dalam kandang penangkaran. Akan tetapi untuk metode ini di sarankan agar sangat berhati-hati dan terus melakuan pengawasan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.  Dan pejantan harus sangat sabar dalam menghadapi betina sehingga cocok bila di jadikan indukan sitem poligami seperti yang ada dalam video saya di bawah ini:

Pemasaran

Inilah saat-saat yang paling di tunggu-tunggu oleh peternak. Bisa menghasilkan anakan hingga makan sendiri dan akhirnya di jual adalah impian sebagian besar para peternak. Maka dari itu, proses ini merupakan hal yang paling sederhana dan paling mudah. Sampai dengan saat ini, tidak ada kendala yang berarti untuk memasarkan anakan burung murai batu. Harga jual sepasang anakan murai batu masih cukup tinggi apalagi dari jenis murai batu medan yang mempunyai ekor yang panjang.  Selain itu, ada pula peternak yang beternak murai dari trah juara sehingga anakannya pun juga di antri oleh banyak orang. Kapan waktu yang tepat untuk memasarkan anakan murai batu kita? Sebenarnya penjualan anakan murai batu bisa di lakukan oleh peternak kapan saja. Bisa saat usia satu bulan, dua bulan atau bahkan saat sudah siap di jodohkan yaitu usia sekitar satu tahunan.  Bila di usia satu bulan, biasanya anakan sudah mampu makan sendiri walaupun hanya kroto.  Sedangkan untuk usia dua bulan, anakan sudah mampu untuk makan voer kering.  Bahkan, ada juga beberapa peternak yang menjual anakan saat usia  7 hari di karenakan tidak mempunyai banyak waktu untuk melolohnya.  Untuk anakan yang sudah berusia dua minggu, bisa di lihat di video di bawah ini: Sedangkan ini adalah video dari contoh anakan murai batu yang sudah berusia dua bulan.  Di usia ini, resiko kematian anakan murai batu sudah lebih kecil dari pada usia di bawahnya.

Perawatan

Dalam proses beternak murai, yang paling di perhatikan adalah pemberian pakan dan minum yang tidak boleh telat. Fatal akibatnya bila sampai burung kehabisan makan dan minum.  Apabila burung tidak makan sehari masih bisa di tolong, akan tetapi bila sudah tidak minum sehari burung bisa mati. Maka dari itu, selama pemeliharaan di dalam kandang pakan dan minum tidak boleh telat dan kehabisan.

Kegagalan Seputar Penangkaran

Tahap demi tahap biasanya di lalui oleh calon peternak sebelum akhirnya berhasil memanen anakan murai.  Mulai dari yang semula tidak bisa menjodohkan lalu akhirnya bisa jodoh. Setelah jodoh, indukan mau bertelur yang sebelumnya tidak mau. Atau yang akhirnya berhasil menetas yang sebelumnya tidak mau menetas.  Kegembiraan tersendiri memang bila akhirnya kita bisa melalui tahapan demi tahapan tersebut.  Akan tetapi, untuk mencapai semua itu di perlukan kesabaran dan ketelatenan.  Hanya yang telaten saja yang panen. Berdasarkan pengalaman saya, rangkuman beberapa faktor penyebab kegagalan ini yang biasanya di hadapi calon peternak.  Solusi yang pernah saya terapkan terbukti sukses dan berhasil. Paling tidak, bagi saya sendiri. Mungkin peternak lain punya solusi yang lain yang tentu saja bisa berbeda dan berhasil juga.

Murai Tidak Jodoh

Kegagalan penjodohan bisa terjadi di karenakan beberapa hal.  Minimnya pengetahuan dan pengalaman calon peternak membuat mereka gagal dalam beternak burung ini.  Saya pun di awal-awal juga mengalami hal ini. Sebagai orang yang masih awam, terkadang belum tahu celah keberhasilan sehingga lebih terkesan coba-coba atau trial n eror.  Berikut adalah beberapa penyebab murai batu gagal jodoh:

Calon Indukan Kurang Umur

Usia ideal untuk calon indukan murai batu adalah setahun ke atas.  Di usia ini, murai batu sudah bisa berproduksi. Kematangan usia produktif tersebut di tandai oleh burung yang sudah mulai rajin berbunyi.  Frekwensi kicauannya akan lebih sering lagi apalagi jika melihat lawan jenisnya.

Pejantan Terlalu Agresif / Galak

Pejantan yang bagus untuk di jadikan indukan adalah murai batu yang tidak agresif dan atau tidak galak.  Pejantan yang galak akan suka sekali berkelahi.  Begitupun juga saat melihat indukan betinanya.  Dia akan melihatnya sebagai musuh meskipun kita sudah menjdohkan dalam waktu yang cukup lama.  Biasanya, pejantan jenis ini tidak akan bisa sabar terhadap indukan betina.

Nutrisi Pakan Kurang

Ketika akan merencanakan beternak murai batu, maka sebaiknya kita sudah tahu akan konsekuensi pakan yang harus kita berikan saat dalam pemeliharaan.  Pemberian pakan harus full hewan dan bukan voer buatan.  Pakan seperti kroto, ulat, jangkrik dan cacing harus kita berikan sesuai dengan porsinya.  Bila nutrisi pakan yang kita berikan kurang, maka indukan juga tidak akan bertelur dengan baik.

Suasana Kandang Kurang Kondusif

Biasanya, sepasang indukan murai batu yang akan berproduksi membutuhkan tempat yang aman dan nyaman. Tidak semua indukan mau berproduksi di suasanan ramai yang sering di lalui banyak orang.  Suasana yang gaduh dan tidak kondusif membuat indukan tidak akan mau berproduksi dengan baik. Ancaman beberapa predator seperti kucing, tikus dan ular sangat mengancam keberlansgungan dan mengganggu indukan tersebut.  Kita juga bisa menempatkan kandang penangkaran di suasana yang jauh dari kebisingan dan keramaian.

Ketidaksabaran Calon Peternak

Ini faktor kunci keberhasilan berternak murai batu.  Tidak hanya pengetahuan ternak, calon peternak juga harus sabar saat menangkarkan murai batu.  Burung tetaplah burung yang sama sekali berbeda dengan mesin. Jadi, mereka harus di tangani sebagaimana kita menangani makhluk hidup yang lainnya agar mereka tetap merasa aman saat kita pelihara.  Kita harus telaten sampai kita berhasil menangkarkannya.

Murai Tidak Bertelur

Keberhasilan penjodohan sepasang murai batu tentu langsung akan membuat kita senang. Akan tetapi, ini adalah satu langkah awal dari beberapa langkah terjal yang harus bisa di lewati oleh calon peternak.  Boleh jadi indukan yang baru saja jodoh tersebut dalam waktu dekat akan segera menyusun sarang lalu bertelur. Akan tetapi, ada juga indukan yang hanya mau menyusun sarang akan tetapi tidak bertelur di dalamnya.  Hal ini pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Salah satu calon indukan saya hanya membuat sarang tapi tidak pernah mau bertelur.  Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya sarang saya buang ke dasar kandang agar indukan tersebut mau menyusun sarang kembali. Hal ini bisa di sebabkan oleh indukan yang kurang nutrisi atau memang usianya kurang matang.  Biasanya, hal ini terjadi pada indukan yang masih belum berpengalaman.  Solusinya, kita harus sabar menunggu sampai usianya lebih matang dan memberikan nutrisi yang lebih baik. Pemberian kroto, ulat kandang, jangrkik harus full di berikan setiap saat dan jangan sampai kehabisan.  Untuk memproduksi telur, indukan betina tentu saja membutuhkan nutrisi yang sangat tinggi. Di perlukan protein dalam kadar lebih tinggi agar tubuhnya mampu menghasilkan telur dalam perutnya.

Telur Tidak Menetas

Ini yang biasanya paling membuat calon peternak tidak sabar dan lalu memutuskan untuk berhenti berusaha. Indukan mau membuat sarang dan bertelur akan tetapi setelah di erami beberapa minggu telur tidak juga mau menetas. Akan tetapi, jika peternak mau bersabar maka peluang akan keberhasilan sudah tinggal beberapa langkah lagi. Telur tidak menetas bisa di akibatkan oleh indukan jantan yang tidak isi.  Jika ini terjadi, maka tidak ada jalan lain selain kita harus mengganti indukan jantan tersebut. Proses perkawinan gagal sehingga sperma tidak masuk ke dalam kloaka sang betina juga bisa menjadi penyebab telur murai batu tidak mau menetas.  Untuk mengatasinya, kita bisa mencoba mencabut beberapa bulu halus yang ada di sekitar anus sang jantan dan betina agar nantinya bila indukan tersebut kawin, peluang sperma masuk ke dalam kloaka lebih besar.

Indukan Membuang Anakan

Tidak seperti menangkar burung lain, murai batu memang sedikit berbeda. Ada beberapa pejantan yang sangat sensitif terhadap kehadiran murai batu lain. Bahkan terhadap anakannya sendiri.  Sampai usia seminggu, biasanya anakan sudah mengeluarkan suara khas anakan. Nah, pada saat ini biasanya sang pejantan akan mengenali dan melihatnya sebagai sebagai seekor murai batu lain walaupun itu anaknya sendiri.  Secara naluri, pejantan seperti ini akan menyingkirkan ‘gangguan’ tersebut dan mau tidak mau, anakan tersebut akan di hajar atau paling tidak di buang hingga anakan tersebut mati.  Tidak semua pejantan seperti ini. Akan tetapi, untuk menyiasatinya peternak bisa segera mengambil anakan agar tidak di buang oleh indukan jantannya.

Informasi selengkapnya, Anda juga bisa mengunjungi artikel lainnya di sini: https://www.sasang.co.id/tag/beternak-murai-batu/

(sp)

Related Post

Author : Sasang P S

Hanya mencoba menuliskan kembali apa saja yang saya lihat, dengar, pikirkan dan rasakan. Beberapa harapan dan impian saya juga saya tulis untuk nantinya saya lihat kembali, untuk tahu bagaimana saya yang sebenarnya dulu dan sekarang.


Comments

comments